Demi memeriahkan Piala Dunia, ini ada tulisan lama banget dari Piala Dunia 2006. Jadi relevan lagi, menurut saya, setelah kicauan-kicauan di Twitter soal suka atau tidak suka menonton Piala Dunia. Tulisan ini pernah dimuat di salah satu kolom di harian Media Indonesia, tempat saya pernah bekerja, sehubungan dengan berlangsungnya Piala Dunia.

---

TAK perlu ke bioskop akhir pekan ini jika hanya ingin menyaksikan kembalinya Superman. Bagi yang sudah menonton Superman Returns, ya sudahlah. Tapi bagi yang belum, manusia, maaf, lelaki super itu sudah ada di sekitar kita sejak tiga minggu lalu. Dan dalam jumlah banyak pula. Yang saya maksud adalah para lelaki penonton Piala Dunia.

Lelaki super? Iya, karena ketika Piala Dunia berlangsung, otak-otak mereka penuh dengan statistik, jadwal, prediksi, nama sekitar enam ratus pemain, belum termasuk pelatihnya. Dan dari sekitar enam ratus individu itu, mereka masih hafal kualifikasi dan sejarah pribadi lebih dari setengahnya.

Olahan-olahan informasi ini mereka tarik dari tumpukan arsip berusia belasan, bahkan puluhan tahun, dalam otak mereka. Jangankan skor akhir, menit-menit terjadinya gol dalam tiap pertandingan pun mereka hafal. Semua itu tergolong super untuk makhluk yang sebelum kedatangan 'bulan suci' Piala Dunia, kurang mampu membagi perhatian antara menonton televisi dan mengikuti pembicaraan seseorang (dalam manual tentang lelaki, 'jangan mengajak bicara saat kami menonton televisi' tercantum di urutan pertama, kedua, dan ketiga).

Itu baru bicara tentang keajaiban ingatan, belum lagi ketahanan fisik.

Para lelaki penggila bola ini tidur hanya dua jam tiap malam, atau malah tidak tidur sama sekali. Kafein, nikotin, dan kacang menjadi asupan gizi utama selama Piala Dunia; mungkin ramuan tiga elemen ini yang membuat mata mereka lebih tajam dari mata wasit di lapangan menangkap tiap pelanggaran, bahkan sebelum replay.

Ritme hidup ini pun bukan hanya untuk dijalani sehari, dua hari.

Berani bertaruh, fanatisme aktris Sarah Jessica Parker dengan selemari penuh stiletto-stiletto indah rancangan Manolo Blahnik tak akan sebanding dengan fanatisme dan ketahanan fisik para lelaki penonton Piala Dunia di sekitar saya. Jika penulis Inggris, Nick Hornby lewat otobiografinya, Fever Pitch, mengatakan bahwa cara sepak bola dikonsumsi dapat menawarkan informasi tentang karakter para penikmatnya; apa yang dapat dikatakan Piala Dunia tentang kaum Adam di sekitar saya?

Psikoanalis Sigmund Freud ketika mati belum dapat menjawab pertanyaan "apa sih yang diinginkan perempuan?" Padahal ia telah menghabiskan 30 tahun hidupnya melakukan riset untuk mencari jawaban pertanyaan tersebut. Tetapi, tentang yang ada dalam pikiran lelaki, Freud menggambar perempuan telanjang di dahi seorang lelaki, dengan salah satu kaki si perempuan yang terlipat membentuk hidung di profil lelaki tersebut. Piala Dunia membuktikan bahwa isi kepala lelaki ternyata tidak sesimpel yang digambarkan Freud.

Kenyataan baru ini membuat reputasi jenis kelamin kami sebagai sosok yang lebih rumit, lebih cerdas, lebih teliti, lebih analitik, dan karena itu lebih unggul, terancam. Mungkinkah fanatisme yang ditunjukkan para lelaki itu adalah sebuah pembuktian akan superioritas? Bisa saja, karena masa dan segala perangkatnya hanya mengizinkan dan mengakui pencapaian terbesar para lelaki kontemporer ini saat mereka menjadi metroseksual.

Lelaki abad 21, menurut penulis Chuck Palahniuk, lewat novelnya Fight Club adalah para anak tengah sejarah yang marah. Oleh masa, mereka tak diberi kesempatan menjadi pahlawan, tapi dijebak dalam hampanya pengejaran impian konsumerisme. "Perang terbesar kita adalah perang spiritual. Depresi besar kita adalah hidup kita. Kita dibesarkan oleh televisi yang membuat kita percaya suatu hari nanti kita semua akan jadi miliuner, dan bintang film, dan rock star. Tapi itu tidak akan terjadi.

Dan kita perlahan menyadari fakta itu. Dan kita amat, sangat marah," kata karakter novel itu, Tyler Durden. Pelepasan kemarahan para lelaki Fight Club adalah membuat tubuh mereka terekspos pada rasa sakit, melalui adu tinju satu lawan satu dalam sebuah klub bawah tanah; ada sisi masokisme dalam prosesi pelepasan amarah itu.

Menonton Piala Dunia terutama, adalah sebuah aksi masokisme.

Pertandingan Brasil lawan Ghana Selasa (27/6) lalu contohnya. Buat saya, babak pertama pertandingan itu terasa menyesakkan; Ghana memiliki begitu banyak kesempatan mencetak gol (dan nama dalam sejarah!), tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Seperti patah hati berkali-kali hanya dalam waktu 45 menit. Itu baru dari satu babak pada satu pertandingan, belum enam puluh tiga pertandingan lain.

Berarti benar kata Hornby, pahitnya rasa kecewa adalah kewajaran bagi seorang penggemar sepak bola, tak peduli berapa skor akhirnya. Menjadi penonton ternyata juga butuh hati super. Tetapi, kemenangan licik Italia atas Australia, Senin (26/6) lalu juga dapat memberi informasi lain tentang perilaku para Adam. Pertandingan itu memberikan satu bukti baru bagi adagium lama; lelaki tampan pemakai rancangan Dolce & Gabbana ternyata berhati serigala dan tidak untuk dipercaya. Mulan dan Maia tak menuduh tanpa dasar ketika mereka bernyanyi, lelaki buaya darat, busyet!